Miris hati saya membaca tanggapan Ketua Umum PAN
Zulkifli Hasan, atas status tersangka yang kini disandang Gubernur Jambi, Zumi
Zola. Kita sama-sama tahu Zumi Zola adalah Ketua DPW PAN Jambi yang terjerat
kasus dugaan korupsi RAPBD Provinsi Jambi tahun 2018.
Kecuali terkejut, Zulkifli juga menyebut perkara
gaji kepala daerah yang kecil—cuma Rp 6.6 juta katanya. Padahal untuk maju di
pilkada, seseorang membutuhkan modal yang sangat besar. Melalui tanggapan ini,
terkesan Zulkifli—yang juga adalah Ketua MPR—hendak membangun narasi korupsi
kepala daerah adalah wajar sebab gaji mereka kecil sementara modal pilkadanya
amat besar.
Dari sini kita bisa membaca ada kesan rasionalitas
yang dikemukakan untuk membenarkan perilaku korup. Ini tak ubahnya istilah
“apes” yang juga tren apabila ada pejabat yang terciduk. Maksudnya perilaku
korup itu wajar saja—salah, tapi wajar saja—dan apabila ada pejabat yang
terciduk, ya sedang sial saja.
Bukankah ini pertanda ada moralitas yang sedang
jungkir-balik? Kita tahu itu adalah kesalahan, tapi karena banyak yang
melakukan, ya dilakukan juga. Sebuah dalih dari perilaku tak bermoral.

